Eksekutif Kota LMND Palembang

Konsentrasi Gerakan Mahasiswa ----> PANCASILA Dasarnya, TRISAKTI Jalannya, REPUBLIK Ke Empat; Masyarakat Adil Makmur Tujuannya !

Selasa, 14 September 2010

Babak Baru Skandal Bank Century

Babak Baru Skandal Bank Century

Rabu, 15 September 2010 | 1:45 WIB

Editorial  Berdikari Online
SEKIAN lama terpendam dalam panggung politik nasional, skandal Bank Century kembali mencuat ke permukaan. Ibarat peluru yang dapat dipergunakan kapan saja dan atas sasaran tertentu, skandal Bank Century pun kadang muncul pada situasi-situasi politik tertentu, dan setelah itu akan meredup lagi.
Kali ini, skandal bank Century “dinyanyikan” kembali oleh orang nomor satu di partai Golkar, yakni Aburizal Bakrie, saat melakukan silaturahmi di rumah kediaman Yusuf Kalla, Minggu (12/9/2010). Ini terbilang sebuah “gebrakan”, mengingat bahwa kasus Century tenggelam bersamaan dengan pendirian Sekretariat Gabungan (Setgab), dimana Aburizal Bakrie memainkan peranan “kunci” di situ.
Dikatakan “gebrakan” karena sebagian besar anggota pansus kini terdiam dalam sunyi, tidak ada lagi riuh perdebatan mengenai mega-skandal paska reformasi ini. Mereka yang dulu sangat vocal dan serius, kini mulai tutup mulut dan tutup buku.
Jika diperhatikan dengan seksama, ada tiga peristiwa politik yang sedikit-banyaknya mempengaruhi kemunculan kembali skandal bank century. Pertama, keputusan “heboh” KPK menetapkan 26 anggota DPR sebagai tersangka  dalam kasus cek perjalanan yang meloloskan Miranda Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia pada 2004.  Dalam kasus ini, Golkar dan PDIP menjadi partai yang paling banyak kadernya “terseret”.
Kedua, momentum pemilihan pimpinan baru Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang mana tahap sekarang tinggal menyisakan dua nama,  Bambang Widjojanto dan Busyro Muqoddas. Kedua nama ini, yang diakui integritasnya oleh sebagian publik kita, dapat dianggap mewakili “keberanian baru” untuk mengurai kembali benang kusut kasus century ini.
Ketiga, kemunculan isu “reshuffle kabinet”, yang disuarakan oleh Ahmad Mubarok, orang Demokrat yang dikenal dekat dengan SBY, disebut-sebut sebagai alat gertakan bagi partai-partai pendukung koalisi yang sedikit “bandel” kepada pemerintah.
Dalam keadaan demikian, ada banyak pihak menaruh “keraguan” bahwa pengusaha yang banyak dikecam karena menimbun beberapa desa dengan lumpur ini, benar-benar serius mau mengungkap skandal memalukan tersebut.
Boleh jadi, menurut anggapan sebagian orang tersebut, kasus bank century ini menjadi “peluru terakhir” Aburizal Bakrie, untuk membalas tindakan KPK yang telah memperkarakan banyak anggotanya dalam kasus “travel check”-miranda Gultom, ataukah sebagai alat untuk memasang bargain menghadapi reshuffle kabinet, supaya orang-orang Golkar di kabinet tetap aman atau malah tambah jatah.
Namun, terlepas dari “kecurigaan” yang sangat pantas itu dan memang benar adanya, kita berharap bahwa gelindingan ala Ical –sapaan akrab Aburizal Bakrie-ini benar-benar mendorong pimpinan baru KPK untuk membongkar skandal bank Century dan menyeret seluruh orang yang diduga pelakunya, baik yang berlindung di balik istana maupun yang bersembunyi di Washington, tempat Bank Dunia berkantor.
Apalagi, KPK baru-baru ini membuat ‘terapi kejut” dengan memenjarakan 26 orang anggota DPR, yang nilai suapnya mencapai Rp24 miliar, sementara skandal Bank Century merugikan negara sebesar Rp6,7 triliun. Ibarat kata pepatah “panas setahun dihapus oleh hujan sehari”, jika ternyata KPK terbukti melakukan “perlakuan berbeda” terhadap kedua kasus ini. “Kalau Bachtiar Hamzah bisa dipenjara karena pengadaan kain sarung, kenapa skandal Bank Century yang triliunan rupiah bisa dilupakan,” demikian perumpaan dari mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla.
Ada yang mengatakan, separuh kebenaran masih lebih berbahaya dari seratus persen kebohongan. Setidaknya, jika ada usaha keras dan serius dari penegak hukum untuk membongkar kasus ini, rakyat Indonesia bisa sedikit bernafas lega dan tidak merasa sia-sia hidup di negeri tercinta ini. Sebab, sebuah negara yang berjalan di atas kebohongan, cepat atau lambat, hanya akan mencapai keruntuhan.

Sabtu, 11 September 2010

Kesalahan Terparah Dalam Ekonomi Eropa

Kesalahan Terparah Dalam Ekonomi Eropa

Minggu, 12 September 2010 | 7:29 WIB

Oleh : Stefan Steinberg
Pekan lalu, Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan proyeksi untuk pertumbuhan di 16 negara kawasan eropadengan hanya lebih dari setengah persen, untuk tingkat rata-rata 1,6 persen untuk tahun 2010. Prediksi sebelumnya telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya 1,0 persen.
Prediksi mengenai peningkatan ini semata-mata karena kinerja sementara ekonomi satu-satunya di Eropa, Jerman, dan menyamarkan fakta bahwa tingkat pertumbuhan minimal terjadi untuk negara Uni-eropa dan negative untuk banyak negara lainnya. Latvia, Rumania, Bulgaria, Siprus dan Spanyol tetap berada dalam resesi dan statistik terbaru menunjukkan bahwa Yunani akan tenggelam dalam resesi yang semakin mendalam.
Gambaran baru untuk perekonomian Inggris menunjukkan, bahwa penurunan aktivitas di sektor publik telah menyebabkan peningkatan PHK. Hal ini melahirkan spekulasi media massa mengenai datangnya “resesi dua kali lipat” dalam waktu dekat ini, bersamaan dengan keputusan pemotongan belaja (pengeluaran) secara drastis, yang diumumkan oleh koalisi pemerintahan baru di Inggris, akan segera diberlakukan.
Pada saat bersamaan dengan pengumuman estimasi pertumbuhan ekonomi di zona eropa,  ECB juga mengatakan pada hari Kamis keinginannya untuk tetap mempertahankan patokan suku bunga terendah sebesar 1%, memperluas upaya penyediaan dana darurat untuk bank komersial hingga akhir tahun ini. Awalnya ECB punya komitmen sendiri untuk menyiapkan kredit tidak terbatas bagi perbankan hingga pertengahan oktober. Kebijakan tingkat suku bunga telah dipatok dalam level terendah dalam 16 bulan terakhir.
Statemen ECB terkait ekonomi eropa telah mengakui, bahwa perbaikan saat ini adalah semata-mata karena faktor temporer. “faktor temporer” ini mengacu pada program stimulus besar-besaran yang diperkenankan di seluruh eropa akhir tahun lalu, dan dimaksudkan untuk membail-out perbankan dan melindungi bisnis besar dari kebangkrutan. Program ini sekarang mulai menghilang dan berturut-turut negara-negara eropa telah mengadopsi program penghematan anggaran. Pemotongan anggaran belanja besar-besaran dengan memangkas upah pastinya akan mengecilkan ekonomi eropa dan membawa konsekuensi deflasi dalam bulan atau tahun mendatang.
Mengomentari gambaran terbaru Uni Eropa, Presiden ECB Jean-Claude Trichet mengakui kepada wartawan di Frankfurt, bahwa situasi di Eropa masih ditandai dengan “ketidakpastian”,  dan ia melanjutkan, ” Kita harus tetap hati-hati dan bijaksana- jangan mengumumkan kemenangan. ”
Perpanjangan kredit bebas bunga oleh ECB untuk sejumlah bank menunjukkan kurangnya likuiditas dan pesimisme para investor terhadap perekonomian Eropa. Senior ekonomi ING, Carsten Brzeski, menyimpulkan,  “program likuiditas (ECB) menunjukkan bahwa ECB tidak yakin pada pemulihan dan kesehatan sistem keuangan.”
Kasus ini tetap ada meskipun pemerintah Eropa telah mengambil tindakan yang luar biasa pada tahun ini. Di bulan Mei Uni Eropa, yang bertindak bersama IMF, menyetujui paket bail-out sebesar €750 billion (US$990 billion), yang dimaksudkan untuk mencegah kebangkrutan ekonomi Yunani dan kolapsnya euro. Dua bulan kemudian, bank-bank eropa menjalani apa yang disebut dengan “stress tests”, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi asset mereka yang beresiko.
Meskipun ada upaya ini, harga obligasi pemerintah di beberapa negara Eropa yang paling terkena dampak—- Irlandia, Portugal, Yunani dan Spanyol–telah mendekati level “genting” pada bulan mei sebelum datangnya pertolongan EU dan IMF.
 Baru seminggu yang lalu, lembaga pemeringkat Standard & Poor’s memangkas peringkat kredit untuk AA-Irlandia, negara rating terendah dalam 15 tahun terakhir. Merevisi rating kredit untuk Irlandia berarti, bahwa negara ini sekarang harus membayar tingkat bunga yang lebih tinggi guna memastikan penjualan obligasi.
Penurunan itu terjadi saat pemerintah Irlandia memperkenalkan apa yang disebut dengan program penghematan paling ketat dan agressif di seluruh eropa. Memang, kepala EBC Jean Trichet, yang telah berpendirian mengenai langkah-langkah penurunan drastis yang sangat anti-pekerja, secara pribadi telah menempatkan Irlandia sebagai model penting yang perlu diikuti oleh ekonomi negara eropa lainnya dalam berjuang melawan kesulitan.
Analis finansial di Dublin, Alan McQuaid, berkomentar mengenai perubahan peringkat kredit; “Ini adalah saat-saat yang mengerikan. Jika bank tidak dapat membayar, maka mereka akan semakin bergantung kepada EBC, yang telah merugikan persepsi mengenai Irlandia, dan akan semakin berdaulat. Ini akan menjadi semacam lingkaran setan.”
Baru-baru ini dalam sebuah artikel di New York Times berjudul  “In Ireland, Dangers Still Loom”, penulis Simon Johnson dan Peter Boone memperingatkan konsekuensi dari tipe program penghematan yang diperkenalkan di seluruh eropa—khususnya, bagi negara-negara yang diharuskan membayar beban peningkatan utang. Mereka mencatat bahwa pasar keuangan tetap tidak berkesan dengan tindakan yang diambil oleh pemerintah Irlandia, yang telah memotong upah sektor publik sangat tinggi dan mendorong tingkat pengangguran.
Mereka menulis, “ meskipun atau mungkin karena terapi ini, pasar keuangan akan melihat Irlandia sebagai “Yunani berikutnya”. Para penulis ini memperhitungkan bahwa probabilitas dari kegagalan Irlandia mengatasi utangnya akan “terpicu”, dan dibawah program pemerintahan sekarang ini setiap keluarga irlandia akan bertanggung jawab atas 200.000 euro utang publik di taun 2015.”
Mereka menyimpulkan, “Irlandia, cukup dicantumkan, tampak sangat masuk akal untuk bangkrut di bawah scenario kebijakan saat ini. Ide bahwa Irlandia, Yunani, dan Portugal dapat memangkas pengeluaran dan tumbuh dari nilai tukar yang terlalu tinggi dengan deficit anggaran yang sangat besar pula, namun tetap melayani utang dan memperbesar utang lagi, adalah bukti—tidak mengejutkan lagi—kesalahan.
Dengan meningkatnya kekhawatiran di pasar internasional akan kemungkinan “default” dari salah satu dari negara-negara eropa, IMF telah campur tangan dalam perdebatan akhir minggu ini dengan komentarnya, yang mana menentang reaksi panik dari pasar terkait “balon krisis utang”.
Dengan pengecualian penguasa eropa dan satu-satunya negara eropa yang mengalami keseimbangan neraca perdagangan plus di kuartal kedua 2010, yakni Jerman. Analis ekonomi, seperti menteri keuangan Perancis, mencatat bahwa angka-angka Jerman yang pantastis terjadi karena negara ini tercatat pernah mengalami kejatuhan produksi di tahun 2009. Industri ekspor yang sangat kuat di Jerman juga mampu mengambil keuntungan dari pelemahan sementara euro dari dollar.
Data ekonomi terbaru dari AS, yang menunjukkan kecenderungan mengarah pada resesi yang semakin mendalam, kembali mendorong nilai tukar euro terhadap dollar dan juga mengarah pada pengurangan permintaan dari salah satu parnert paling penting dari ekspor Jerman. Wilayah pertumbahan terbesar ekspor hasil industry jerman adalah Asia, khususnya China, juga memperlihatkan gambaran adanya pendinginan dalam ekonomi mereka. Seperti juga dalam kasus sebelumnya dalam sejarah, kekuatan Jerman—yang dibasiskan pada industry yang sangat dinamis—akan menjadi bukti adanya “tumit Achilles”.
Respon bangsa eropa atas semakin dalamnya krisis ini adalah pastinya “anjing makan anjing”. Krisis ini tidak hanya mengitensifkan kegagalan diantara negara eropa dan rival utamanya di dunia internasional, tetapi juga akan dengan cepat memicu perpecahan di dalam eropa itu sendiri. Kecenderungan mengarah pada nasionalisme dan kepentingan nasional masing-masing berpotensi konsekuensi ledakan politik. (WSWS/Rh)

Kamis, 09 September 2010

Hari Raya Idul Fitri 1431 H, Mari Memaknai Hari Kemenangan!

Kamis, 9 September 2010 | 1:23 WIB

Editorial
Besok pagi, 10 September 2010, atau 1 syawal 1431 dalam penanggalan Islam, umat Islam di seluruh dunia akan merayakan hari raya Idul Fitri, tidak terkecuali umat Islam di Indonesia. Idul Fitri disebut juga sebagai hari kemenangan, yaitu satu hari dimana umat Islam merayakan kemenangan setelah sebulan penuh bertempur melawan hawa nafsu dan godaan berbuat dosa.
Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, tentu tidak bisa dipisahkan dari hari kemenangan ini. Karenanya, kemenangan ini tidak bisa dimaknai sebagai kemenangan individu saja, tetapi juga harus dimaknai dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kita patut berbangga, bahwa selama sebulan penuh umat Islam menjalankan ibadah puasa, bangsa Indonesia sanggup menjaga toleransi antar-umat beragama. Kalaupun ada insiden-insiden kecil, tetapi hal itu tidak mengganggu keakraban dan toleransi umat beragama di Indonesia.
Namun, patut disayangkan pula, bahwa bulan ramadhan sempat terganggu oleh beberapa peristiwa politik dan sosial yang tidak baik, antara lain, kerusuhan yang berujung kematian rakyat Indonesia di Kabupaten Buol, remisi terhada koruptor, suasana hati yang panas terkait lemahnya sikap pemerintah terhadap Malaysia, Nafsu DPR membangun gedung mewah di tengah kemiskinan, dan kritik-otokritik yang berujung pada penekanan terhadap si-pengeritik.
Kita selanjutnya berharap, bahwa inti-sari ibadah puasa bisa diserap atau mencerahkan pemimpin bangsa ini. Dengan turut merasakan “kelaparan” di bulan ramadhan, pemimpin bangsa diharapkan lebih sensitif dengan persoalan-persoalan yang dapat menyebabkan kelaparan bagi rakyat, seperti kemiskinan, pengangguran, kenaikan harga, dan lain sebagainya.
Dan, apa yang paling penting saat ini, adalah, bahwa pemimpin bangsa harus bisa “puasa” dari perbuatan korupsi. Apalagi, korupsi bukan perkara yang merugikan satu –dua orang saja, tetapi suatu perkara yang merugikan seluruh rakyat Indonesia yang berjumlah 230 juta orang.
Selain itu, sehari atau dua hari sebelum datangnya lebaran, umat Islam juga diwajibkan membayar zakat fitrah. Pelajaran penting dari pemberian zakat adalah solidaritas sosial dan perjuangan membela si miskin. Dalam Surat Al-Ma’un ayat 1 -3 disebutkan, “Tahukah Kamu orang yang mendustakan Agama, Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
Dengan begitu, zakat fitrah tidak sekedar mengharuskan membantu fakir-miskin dan kaum yang lemah, tetapi juga mengharuskan melawan sistim yang menyebabkan kemiskinan itu sendiri. Suatu sistim yang telah membiarkan segelintir orang menumpuk harta, sementara mayoritas rakyat mengalami kekurangan dan kelaparan. Itulah sistim kapitalisme!
Kegiatan penting lainnya di hari raya Idul Fitri, terutama bagi masyarakat Indonesia, adalah menjalin silaturahmi atau halal bihalal.  Pada hari itu, tanpa memandang kaya atau miskin, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, tidak memandang islam dan non-islam, rakyat kita saling berjabat tangan dengan erat dan memupuk persaudaraan.
Hanya saja, kita merasa terkadang merasa sedih, jika halal bihalal ini dipergunakan untuk tujuan-tujuan pragmatis, umumnya oleh elit politik. Misalnya, elit politik mempergunakan ini untuk rekonsiliasi kepentingan politik, sehingga mengaburkan mana partai pemerintah dan mana oposisi. Bukankah Rasulullah bersabda, “Setiap diantara kalian adalah pemimpin. Dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, sebagai sebuah bangsa yang sedang terpuruk saat ini, kita berharap hari Idul fitri 1431 H bisa mengispirasi kebangkitan kembali bangsa Indonesia menuju kemenangannya pula. Mari menjadikan pesan Idul Fitri tahun ini sebagai cambuk perjuangan, agar kita bangsa Indonesia semakin kuat dalam menjalani perjuangan, yakni; melawan korupsi, melawan kezaliman, dan perjuangan melawan imperialism dan neo-kolonialisme!
Atas nama Dewan Redaksi, juga Direksi dan Administrasi serta segenap pekerja Berdikari Online mengucapkan, “Selamat hari raya Idul Fitri 1431 H, Minal ’Aidin wal-Faizin.

Sabtu, 04 September 2010

Kirim Paket Lebaran, LMND Hadiahi SBY Tabung Gas 3 Kg

Kirim Paket Lebaran, LMND Hadiahi SBY Tabung Gas 3 Kg

Sabtu, 4 September 2010 | 22:54 WIB

Kabar Rakyat
LMND Kompor gas
JAKARTA: Menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun ini, pengurus Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) mengirim paket kartu lebaran untuk Presiden  Susilo Bambang Yudhoyono.
Tidak tanggung-tanggung, selain sebuah surat berisi “10 (dasa) derita rakyat Indonesia”, aktivis LMND juga mengirimkan sebuah tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram kepada Presiden SBY melalui  Kantor Pos di Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (4/9).
Menurut Ketua Umum LMND Lalu Hilman Afriandi, pihaknya menggunakan cara ini karena Presiden SBY sangat sulit ditemui oleh rakyat, termasuk gerakan mahasiswa, ketika menggelar aksi demonstrasi di depan Istana Negara.
Melalui paket lebaran ini, LMND menyampaikan 10 penderitaan rakyat yang seharusnya dicermati dan dilaksanakan oleh Presiden SBY, antara lain, bersihkan istana dari korupsi, lindungi industri dalam negeri, hapus utang luar negeri, turunkan tarif dasar listrik serta sembako, berikan pendidikan untuk rakyat secara cuma-cuma, kesehatan gratis dan juga transportasi massal layak dan murah untuk rakyat.
Kompor Gas 3 Kilogram
Dalam paket lebaran yang dikirimkan kepada Presiden SBY, LMND mengikutkan tabung gas elpiji 3 kilogram. “Agar presiden SBY juga ikut memakainya serta merasakan kegunaan produk Pertamina itu,” ujar Lalu Hilman.
Selama ini, tabung gas elpiji 3 kilogram sudah menjadi “terror” paling menakutkan bagi rakyat Indonesia, terutama kalangan menengah ke bawah. Ini dapat diibaratkan dengan tindakan pemerintah mengirimkan bom ke rumah-rumah rakyat.
Namun, usaha mengirim paket gas elpiji ini hampir tidak bisa dilakukan, karena  Kepala Kantor Pos Besar Pasar Baru, Batara Tampubolon, menolak menerima paket tabung gas tersebut. “ Ini merupakan benda yang dilarang dalam pengiriman lewat pos,” katanya.
Akhirnya, setelah melalui negosiasi yang sangat alot, pihak kantor Pos bersedia menerima paket tersebut untuk dikirimkan, dengan biaya pengiriman sebesar Rp.12.500. (AN)

Rabu, 01 September 2010

DPR dan Rakyat

Rabu, 1 September 2010 | 21:04 WIB
Meski sedang tidak populer dan terus-menerus mendapat hujan kritik dari rakyat, DPR tetap keras kepala akan mendirikan sebuah gedung baru, yang konon kabarnya dibiayai dengan uang Negara sebesar Rp1,8 triliun. Lebih tidak tahu malu lagi, DPR yang “doyan” hura-hura ini berencana menyediakan kolam renang, tempat spa, dan tempat pijat di gedung baru itu. Ya, DPR benar-benar bukan hanya tidak tahu diri, tapi sudah putus “urat” malunya.
DPR termasuk lembaga paling boros menghabiskan anggaran Negara. Untuk membiayai aktivitas seluruh anggota DPR ini, Negara harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp2,7 triliun. Sementara untuk menangani kesehatan rakyat miskin (jamkesmas), yang jumlahnya 76,4 juta orang, Negara hanya menganggarkan Rp 4,6 triliun.
Meskipun menjadi lembaga paling “pemboros”, tetapi kinerjanya justru merupakan yang paling minim. DPR selalu menjadi bulan-bulanan dari pengumuman lembaga paling buruk di Indonesia. Lebih dari itu, sebagian besar koruptor yang menghuni sel-sel penjara sekarang adalah mantan politisi DPR. Di sini, DPR seharusnya memikirkan langkah-langkah untuk menyelamatkan ‘muka’ mereka di hadapan rakyat, bukan terus-menerus mempersolek diri dengan menghambur-hamburkan uang Negara.
Dengan memposisikan diri sebagai wakil rakyat, para anggota DPR seharusnya memiliki ruang kerja yang dekat dengan rakyat, dan bisa bersentuhan langsung dengan keadaan atau persoalan yang sedang dihadapi rakyat. Pekerjaan anggota DPR seharusnya lebih banyak bersentuhan dengan konstituen, menyerap aspirasi rakyat, dan memperjuangkannya. Untuk melakukan pekerjaan itu, setiap anggota DPR seharusnya lebih banyak berada di luar kantor ketimbang di dalam kantornya.
Sementara itu, di luar gedung DPR yang dikelilingi pagar yang tinggi-tinggi, gambaran mengenai kehidupan rakyat semakin menyedihkan. Sebagian besar rakyat bergulat melawan kemiskinan yang terus meminta korban. Anak didik telah kehilangan masa depannya karena biaya pendidikan yang terlampau mahal. Dan masih banyak contoh lainnya.
Sementara anggaran DPR terus-menerus melangit, anggaran yang diperuntukkan untuk rakyat miskin semakin terjun bebas. Ini bisa dilihat pada perbandingan antara APBN 2010 dan APBN 2011. Situasi ini menciptakan jurang pemisah yang sangat lebar antara kehidupan angota DPR dengan kehidupan rakyat banyak.
Dengan membangun proyek mewah di tengah lautan kemiskinan, DPR telah melukai rasa keadilan seluruh rakyat; karenanya, melecehkan suara para pemilih. Kejadian ini tidak ada ubahnya dengan perilaku pejabat kolonial, yang menikmati “kemewahan” di tengah eksploitasi dan penderitaan rakyat jajahan.
Apa yang paling mendesak dilakukan DPR sekaran ini, adalah bagaimana memperbaiki kinerja dan memperkokoh pengabdian kepada rakyat. Untuk bekerja di tengah rakyat, setiap anggota DPR hanya dituntut memiliki etos kerja, dedikasi, patriotisme, dan kecintaan kepada rakyat. Adapun keberadaan gedung, kantor, rumah dinas, mobil dinas, tunjangan, dan fasilitas lainnya hanyalah penunjang kinerja seorang anggota parlemen.  Seluas apapun ruangannya, setinggi apapun gedungnya, jikalau anggota DPR memang tidak punya dedikasi dan keberpihakan kepada rakyat, maka tidak akan ada gunanya.
Menutup editorial ini, kami sangat tergugah untuk menuliskan nyanyian aktivis gerakan mahasiswa saat menggelar aksi demonstrasi:
DPR..DPR dimana otakmu?
Engkau tidak tahu derita rakyatmu
BBM naik, Semua naik
DPR..DPR..antek imperialis
(Editorial Berdikari Online)